Menghidupkan nama dengan nama.

Prawedhi Sosrodimulyo, itulah nama yang diberikan oleh orangtua saya sewaktu saya dilahirkan pada tanggal 7 Juni 1990. Namun karena terdapat suatu kesalahan yang sangat fatal, saya hanya tercatat dengan nama “Prawedhi” di akte kelahiran maupun di kartu keluarga. Itulah sebabnya bagi anda yang mempertanyakan kenapa nama saya di daftar absen hanya “Prawedhi”.

Nama depan saya yaitu “Prawedhi” merupakan sebuah kata sansekerta yang memiliki arti “membangun” menurut orang tua saya ketika saya menanyakannya kepada mereka. Namun untuk memastikan lagi, saya mencoba mencarinya lagi di internet dan saya tidak berhasil menemukan kata sansekerta “Prawedhi”. Yang saya temukan adalah kata “Pra” yang artinya “Sebelum” dan “Wedhi” yang artinya “Pasir”. Mungkin memang ada hubungannya “membangun” dan “sebelum pasir”, saya juga kurang mengerti, silahkan anda interpretasikan sendiri hahahaha. Untuk sekarang saya lebih memilih “membangun” daripada “sebelum pasir”.

Sedangkan Sosrodimulyo adalah nama kakek dari keluarga ayah saya. Keluarga ayah saya adalah keluarga Jawa, lebih tepatnya adalah orang Cepu, dari Jawa Tengah. Keluarga ayah saya memang sudah tradisi untuk memberikan nama belakang Sosrodimulyo kepada keluarganya, seperti adik kakak saya, sepupu saya, om, tante, pak de, bu de, dll. Untuk memperjelas, walaupun nama keluarga saya adalah Sosrodimulyo, tapi keluarga saya tidak ada hubungannya dengan pendiri produk “teh botol sosro”, karena memang sekali saya ditanyakan hal seperti itu semenjak kecil.

Kembali lagi ke nama lengkap saya, “Prawedhi Sosrodimulyo”. Pernahkah anda berpikir mengenai kalimat ini “We’ve worked so hard and finally die.”? Jika anda bertanya kepada saya, tentunya saya tidak ingin saya hidup sia-sia di dunia ini hanya untuk dilupakan begitu saja begitu saya meninggal. Oleh karena itu saya harus “membangun” sesuatu, sesuatu yang sangat luar biasa, yang sangat indah, yang begitu bermanfaat untuk banyak orang, sesuatu yang tidak bisa diucapkan dengan kata2, hingga suatu saat nanti ketika saya meninggalkan dunia ini, nama saya akan dikenang oleh orang2 dan dapat dijadikan teladan oleh anak2 saya dikemudian hari nanti.Jika saya berhasil, maka kalimat kutipan diatas tidak lagi berlaku kepada saya, karena saya tidak lagi bekerja keras hanya untuk mati, tapi saya bekerja keras untuk menghidupkan nama saya selamanya. setidaknya nama saya akan selalu hidup di dalam hati anak2 saya dan anaknya anak saya dan anaknya anaknya anak saya dan seterusnya. Sepertinya memang itulah yang orang tua saya harapkan ketika saya diberikan nama “Prawedhi Sosrodimulyo”, untuk membangun nama saya dan keluarga saya, Sosrodimulyo, di dunia ini.

Semoga saya dapat mewujudkan doa dan keinginan orang tua saya. Amin.

Et ducit mundum per luce,
Prawedhi Sosrodimulyo

Iklan
Dipublikasi di Tak Berkategori | 1 Komentar